Rabu 15 May 2024 21:31 WIB

Tim Ahli Sudah Peringatkan Dampak Erupsi Marapi, Tapi tak Direspons Pemda

Alih-alih dampak erupsi, pemda malah sosialisasi mitigasi gempa-tsunami.

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Friska Yolandha
A man makes his way among the rubble near the wreckage of a car at a village affected by a flash flood in Agam, West Sumatra, Indonesia, Monday, May 13, 2024. Rescuers recovered more bodies Monday after monsoon rains triggered flash floods on Indonesia
Foto: AP Photo/Fachri Hamzah
A man makes his way among the rubble near the wreckage of a car at a village affected by a flash flood in Agam, West Sumatra, Indonesia, Monday, May 13, 2024. Rescuers recovered more bodies Monday after monsoon rains triggered flash floods on Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ahli geologi dan vulkanologi Sumatra Barat (Sumbar), Ade Edward, mengatakan, peringatan akan dampak erupsi Gunung Marapi kepada pemerintah sudah dilakukan sejak awal erupsi terjadi. Menurut dia, sebelum terjadinya banjir bandang, warga telah meminta aparat pemerintahan untuk melakukan sosialisasi perihal langkah mitigasi apabila terjadi bencana, tapi tidak kunjung dilakukan.

“Sejak awal itu sudah diingatkan, ketika 3 Desember itu terjadi erupsi Marapi,” tutur Ade kepada Republika.co.id lewat sambungan telepon, Rabu (15/5/2024).

Baca Juga

Ade mengatakan, bentuk kelalaian pemerintah sejatinya sudah terlihat dengan jatuhnya 24 korban jiwa akibat erupsi Gunung Marapi. Ketika itu status gunung tersebut ada di level siaga, yang mana terlarang bagi wisatawan untuk memasuki kawasan tersebut dalam radius 3 km. Tapi, ternyata mereka diizinkan untuk berwisata ke puncak Gunung Marapi.

“Padahal, itu adalah daerah terlarang itu dimasuki. Karena status itu masih siaga. Itu dilarang memasuki kawasan 3 km. Tetapi diizinkan oleh pemerintah daerah untuk wisata ke puncak Marapi. Itu bukti pertama kelalaian,” kata Ade.

Dari kejadian erupsi tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memperluas daerah yang dilarang untuk dimasuki menajdi radius 4,5 km dari puncak. Tak lama dari sana juga dibuat prediksi daerah mana saja yang berisiko terkena ancaman banjir lahar akibat erupsi.

“Akhirnya keluarlah peta itu. Versi terbaru. Desember minggu ketiga rasanya udah selesai. Dengan permodelan yang paling baiklah rasanya di Indonesia saat ini,” jelas dia.

Data tersebut kemudian diberikan dan disosialisasikan kepada para pegiat bencana Sumbar dan komunitas serupa untuk disosialisasikan lebih lanjut. Itu juga dilakukan untuk membantu pemerintah daerah dalam menyiapkan perencanaan mitigasi. Dari sana, pegiat bencana dan komunitas mengonversi data tersebut menjadi versi aplikasi yang dapat digunakan di ponsel pintar.

“Januari sudah selesai. Sudah kita rilis. Dan kita update terus. Sampai sekarang, di mana lokasi, korban, itu ada di Google Maps. Versi yang kita rilis itu 24 jam kita perbarui terus datanya. Namun, itu tidak ditindak lanjut,” ungkap Ade.

Upaya pencegahan dan kesiapsiagaan tak kunjung dilakukan, terjadilah banjir pertama sekitar April 2024. Ade mengaku, dia dan pegiat lainnya terus mengingatkan pemerintah akan pentingnya pencegahan dan kesiapsiagaan akan dampak lanjutan dari erupsi Gunung Marapi tersebut.

“Ironinya, setelah banjir bandang pertama itu, BNPB itu mengadakan peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana di Padang. Dengan tema kesiapsiagaan gempa-tsunami. Kan ironis sekali. Yang siaganya itu Marapi, kok latihan kesiapsiagaannya gempa-tsunami? Yang kebutuhan masyarakat kan harusnya mitigasi persiapsiagaan Marapi. Dan itu tidak dilakukan sama sekali,” kata dia.

Menurut dia, sebelum terjadi banjir bandang akibat lahar dingin beberapa hari lalu pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sudah memberikan peringatan. Tapi, lagi-lagi tidak ada tindak lanjut akan peringatan tersebut. Padahal, pada masa itu pula, masyarakat desa di sekitar Marapi beserta relawan juga sudah meminta untuk diberikan pemahaman tentang upaya mitigasi bencana.

“Masyarakat desa itu sudah meminta untuk diberikan sosialisasi, pemahaman bagaimana upaya-upaya. Tidak direspons sama sekali. Jadi, kalau menurut saya, Pak Muhajir itu bilang begitu (lengah), benar adanya,” kata dia.

TMC dan penanganan....

Advertisement

Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
  • Untuk percepatan,lebih baik dibuat account sosmed khusus yg memuat berita ttg marapi, tatacara penanggulangan, mitigasi ataupun tindakan dan upaya yg dilakukan pihak terkait sprti TMC ini di update setiap saat. Jadi masyarakat bisa langsung memantau info terupdate dan bisa merespon dengan cepat. Trimakasih
    11 Bulan lalu
  • Pemerintahan Tanah datar sudah bekerja untuk penanggulangan bencana galodo ini.... sepengetahuan saya dikecamatan sungai Tarab.,..paska galodo 2009 sudah dilakukan sterilisasi terhadap aliran sungai yang dilalui galodo 1979 dan 2009...dan tahun 2024 ini debit air dari gunung marapi sangat tinggi...jadi semua ini mari kita ambil hikmahnya....dekatkan diri kepada yang maha kuasa.....dan saran untuk Pemda kabupaten Tanah datar kedepannya lebih baik lagi.....dan untuk menjadi perhatian mengingat curah hujan di sekitar marapi masih tinggi... wilayah salimpaung wajib jadi perhatian...disana juga merupakan sungai aliran marapi
    11 Bulan lalu
  • Tahun 1979 hampir 50 tahun lalu sudah terjadi juga galodo di aliran sungai lahar dingin gunung Marapi tersebut, seharusnya Pemda Kabupaten Tanah Datar, kabupaten Agam dan Pemda kota Padang panjang harus mawas diri tapi ini tidak.dilakukan
    11 Bulan lalu
  • Daerah mana yg jadi bencana min? Pemda mana yg tdk respon itu?
    11 Bulan lalu
    • Yang jelas Pemda disekitar Marapi terutama yang banyak korbannya.
  • Hayo buya.....ngomong.....jgn diam saja..kemana saja kau...
    11 Bulan lalu
    • Itu terkait Pemda kabupaten dan kota sekitar aliran sungai lahar dingin Marapi yaitu kab Agam, Tanah Datar dan Pemda kota Padang panjang
    • Ngopi dulu om. Biar sedikit tenang. Lalu cari tau beda pemda dg pemprov... ^_^
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement