Selasa 21 Nov 2023 14:30 WIB

Sesak Napas Belum Tentu Asma, Bisa karena Penyakit Ini

Tidak semua sesak napas pertanda asma.

Rep: Desy Susilawati/ Red: Qommarria Rostanti
Seorang pria mengalami sesak napas (ilustrasi). Sesak napas belum tentu asma, bisa jadi karena penyakit paru obstruktif kronis.
Foto: Republika
Seorang pria mengalami sesak napas (ilustrasi). Sesak napas belum tentu asma, bisa jadi karena penyakit paru obstruktif kronis.

REPUBLIKA.CO.ID JAKARTA -- Apakah Anda pernah merasa sesak napas? Anda pasti mengira sedang mengalami asma. Padahal tidak semua sesak napas itu pertanda asma.

Bisa jadi Anda mengalami penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Apa perbedaanya?

Baca Juga

Perwakilan Kelompok Kerja Asma dan PPOK, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dr Triya Damayanti, SpP(K), PhD, menjelaskan PPOK itu adalah penyakit paru yang kronis dan terjadi terus menerus berbeda dengan asma. Dia mengungkapkan penyakit paru ada banyak, ada yang infeksi dan non infeksi. Penyakit yang disebabkan karena infeksi adalah peunomonia atau tuberkulosis (TB). Sedangkan penyakit non infeksi diantaranya PPOK, asma dan kanker paru. 

"Semua itu menyebabkan keluhan sesak napas, ada juga keluhan batuk dan berdahak," ujarnya dalam acara Kampanye Peduli Paru OK yang diselenggarakan PT Glaxo Wellcome Indonesia (GSK Indonesia) bersama PDPI dalam rangka peringatan Hari PPOK Sedunia 2023 (World COPD Day 2023), di Jakarta belum lama ini.   

Ia menjelaskan perbedaan PPOK dibandingkan penyakit asma adalah pada durasi sesaknya. "Asma sesaknya tertentu, terutama jelang subuh sampai pagi hari. Sesak terjadi karena penyempitan saluran napas sesak. Kalau siang sudah normal kembali," ujarnya. 

Sedangkan pada pasien PPOK keluhan sesaknya terjadi terus menerus. Keluhan sesak PPOK tidak dipengaruhi oleh cuaca, atau pencetus.

"Kalau sudah PPOK sesaknya sepanjang hari. Inilah yang menjadi masalah," ujarnya.

Pada periode tertentu, kata dia, Anda akan semakin sesak, produksi dahaknya sering dan jadi batuk. "Akhirnya di satu titik ketika gejalanya mencuat dari hari-hari berikutnya itulah kondisi eksaserbasi," ujarnya.

Ia mengatakan, eksaserbasi itu menandakan sedang ada perburukan gejala. Ini adalah komplikasi yang berusaha kita cegah dari PPOK.

Sementara itu PPOK juga berbeda dengan pneumonia. Perbedaan keduanya mengenai ada tidaknya demam. Pada PPOK tidak disertai demam, sedangkan pneumonia disertai demam.

Selain itu, PPOK juga berbeda dengan TB, TB kadang disertai batuk darah, sedangkan PPOK tidak ada. Sementara itu, pada penyakit keganasan, ada batuk darah dan nyeri dada, sedangkan pada PPOK tidak ada.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement