AMEERALIFE.COM, JAKARTA -- Di tengah arus perkembangan metode pola asuh yang kian beragam, istilah strawberry parenting muncul sebagai fenomena yang menarik perhatian. Konsep ini menggambarkan gaya pengasuhan yang dilandasi kasih sayang mendalam, namun menyimpan potensi jebakan yang perlu diwaspadai.
Psikolog klinis anak dan remaja sekaligus konselor dan Vice Principal SD di Sekolah Cikal Amri Setu, Rendra Yoanda M Psi memberikan penjelasan mendalam mengenai strawberry parenting dan dampaknya pada perkembangan emosional anak.
Istilah strawberry parenting berakar dari pandangan bahwa orang tua ingin melindungi anak-anak mereka dari segala bentuk kesulitan.
Menurut Rendra, pola asuh ini memiliki kemiripan dengan overprotective parenting, di mana orang tua cenderung melindungi anak secara berlebihan sehingga menghambat perkembangan kemandirian mereka. Dia menjelaskan, dari paparan Rhenald Kasali di bukunya yang berjudul Strawberry Generation, generasi ini muncul karena adanya pandangan di kalangan orang tua bahwa cukup mereka saja yang mengalami kesulitan sementara anak-anaknya jangan merasakan kesulitan yang sama seperti mereka dulu. "Dari perspektif psikologis, tipe pola asuh yang sejalan atau setidaknya cukup mendekati pandangan strawberry parents tersebut adalah overprotective parenting," kata Rendra dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id pada Rabu (2/4/2025).
Orang tua yang menerapkan strawberry parenting memiliki ciri khas, yaitu kecenderungan untuk melindungi anak secara berlebihan. Mereka berusaha keras untuk menghindarkan anak dari segala bentuk luka, baik fisik maupun psikologis, perasaan tidak bahagia, pengalaman tidak menyenangkan, penolakan, kegagalan, hingga kekecewaan dan penyesalan.
"Ciri utama dari strawberry parenting yang sangat mirip dengan overprotective parenting adalah mencoba dengan penuh daya dan upaya untuk menjauhkan anak-anak mereka dari hal-hal yang bisa menimbulkan luka, baik secara fisik maupun psikologis, perasaan tidak bahagia, pengalaman tidak menyenangkan, penolakan, kegagalan, hingga kekecewaan dan penyesalan," ujar Rendra.
Selain itu, orang tua dengan pola asuh strawberry parenting cenderung selalu turun tangan untuk menyelesaikan masalah anak, sehingga anak tidak belajar cara menghadapi tantangan dengan benar. Rendra mengatakan orang tua yang mengadopsi pola asuh strawberry/overprotective parenting ini umumnya akan terlibat langsung dalam konflik. Misalnya, dengan menghampiri anak yang berkonflik dan menanyakan alasan mereka berkonflik tanpa sebelumnya berdiskusi dengan orang tua dari anak tersebut. "Atau, bisa juga mereka memarahi langsung anak lainnya sembari mengatakan tidak boleh ada orang lain yang memarahi anaknya selain mereka sendiri," kata Rendra.
Pola asuh yang menerapkan perlindungan berlebihan ini dapat berdampak negatif pada perkembangan emosional anak. Anak-anak yang dibesarkan dengan strawberry parenting cenderung kesulitan mengelola emosi dan menghadapi stres. Mereka juga tidak memiliki kemampuan penyelesaian konflik yang baik dan memiliki daya juang yang rendah.
Anak menjadi tidak siap untuk merasakan, memahami, dan menerima emosi-emosi negatif yang mereka rasakan. Mereka juga menjadi tidak siap untuk menghadapi stres karena saking cepatnya orang tua mereka bereaksi terhadap hal-hal yang terjadi sehingga mereka tidak memiliki gambaran atau pengalaman sama sekali dalam menghadapi stres. "Hal ini membuat daya tahan dan daya juang mereka juga menjadi rendah," ujar Rendra.
Dalam konteks yang lebih luas, strawberry parenting mencerminkan pergeseran nilai dalam masyarakat modern, di mana orang tua cenderung memberikan prioritas tinggi pada kebahagiaan dan kenyamanan anak. Namun, di balik niat baik tersebut, terdapat potensi risiko yang perlu dipertimbangkan.
Perlindungan berlebihan dinilai dapat menghambat perkembangan resiliensi anak, yaitu kemampuan untuk bangkit dari kesulitan dan menghadapi tantangan hidup. Anak-anak yang tidak pernah mengalami kegagalan atau kesulitan mungkin akan kesulitan beradaptasi ketika menghadapi situasi sulit di masa depan.
Selain itu, strawberry parenting juga dapat memengaruhi perkembangan sosial anak. Anak-anak yang selalu dilindungi mungkin akan kesulitan membangun hubungan yang sehat dengan teman sebaya. Mereka mungkin akan cenderung bergantung pada orang tua dan kurang mampu berinteraksi secara mandiri.
Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menemukan keseimbangan antara memberikan kasih sayang dan perlindungan, dengan memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar dan berkembang secara mandiri.
Penting bagi orang tua untuk menyadari bahwa kegagalan dan kesulitan adalah bagian alami dari kehidupan.
Pengalaman-pengalaman tersebut dapat menjadi pelajaran berharga bagi anak, membantu mereka mengembangkan keterampilan hidup yang penting, seperti kemampuan problem solving, pengambilan keputusan, dan pengelolaan emosi. Orang tua dapat memberikan dukungan emosional kepada anak, namun tetap memberikan mereka ruang untuk belajar dan tumbuh.
Dalam praktiknya, strawberry parenting sering kali muncul dari kekhawatiran orang tua terhadap masa depan anak. Orang tua ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka, dan mereka percaya bahwa melindungi anak dari segala bentuk kesulitan adalah cara terbaik untuk melakukannya. Namun, penting untuk diingat bahwa setiap anak adalah individu yang unik, dengan kebutuhan dan potensi yang berbeda-beda. Orang tua perlu menyesuaikan gaya pengasuhan mereka dengan kebutuhan individu anak, dan menghindari menerapkan pola asuh yang kaku dan berlebihan.