AMEERALIFE.COM, JAKARTA – Pernah merasa sudah kenyang namun tetap ingin makan makanan penutup? Ilmuwan kini menemukan alasan ilmiahnya.
Menurut penelitian dari Max Planck Institute for Metabolism di Jerman, keinginan makan dessert setelah makan bukan sekadar kebiasaan, melainkan dikendalikan oleh mekanisme khusus di otak.
Pemimpin studi, Henning Fenselau, menjelaskan bahwa mereka meneliti mekanisme otak yang mengatur rasa kenyang. Yang mengejutkan, mereka menemukan bahwa sel saraf (neuron) yang memberi sinyal kenyang ternyata juga bertanggung jawab atas dorongan untuk mengonsumsi makanan manis.
“Studi ini sangat mengejutkan karena memberi wawasan baru kepada kita mengapa selalu ingin mengonsumsi makanan manis setelah makan,” kata Fenselau seperti dilansir laman Fox News, Jumat (28/2/2025).
Untuk menguji hipotesis mereka, para peneliti melakukan eksperimen pada tikus laboratorium. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun sudah kenyang, mereka tetap memilih makanan manis ketika diberikan akses. Pemindaian otak pada tikus uji mengungkap, neuron PMC bertanggung jawab atas fenomena ini.
Penemuan ini juga diuji pada manusia. Para peneliti melakukan pemindaian otak pada sukarelawan yang mengonsumsi larutan gula dan menemukan bahwa bagian otak yang sama bereaksi terhadap gula, sebagaimana yang terjadi pada tikus.
Fenselau mengatakan masih banyak yang perlu diteliti mengenai temuan ini. Namun, ia menduga bahwa mekanisme ini bisa berperan dalam perkembangan obesitas.
“Dengan gula dan makanan manis yang tersedia di mana-mana, apakah mekanisme ini terus aktif sepanjang waktu? Sehingga perlu ada penelitian lebih lanjut,” kata dia.
Ia juga menghubungkan temuannya dengan obat-obatan seperti GLP-1, yang diketahui bekerja pada bagian otak yang sama dengan “dessert brain” ini. Namun, belum diketahui apakah obat-obatan ini secara langsung mempengaruhi mekanisme yang ditemukan oleh timnya.
“Ini adalah sesuatu yang sangat kami minati untuk diteliti lebih lanjut. Kami ingin mengetahui apakah obat-obatan ini, terbukti cukup efektif, memiliki yang telah kami identifikasi,” kata dia.
Selain itu, dia juga membuka kemungkinan bahwa temuan ini dapat membantu meningkatkan efektivitas obat-obatan yang ada dengan menambahkan senyawa khusus yang secara spesifik menargetkan bagian otak yang memicu keinginan terhadap makanan manis, sehingga dapat membantu mengendalikan nafsu makan terhadap gula.
