Rabu 26 Feb 2025 23:22 WIB

Rutin Konsumsi Jeruk Disebut Bisa Bantu Turunkan Risiko Depresi

Wanita yang makan lebih banyak jeruk punya jumlah F prausnitzii lebih tinggi.

Rep: Mgrol156/ Red: Qommarria Rostanti
Buah jeruk. Para dokter dan ilmuwan mengungkap bahwa mengonsumsi lebih banyak buah tertentu, seperti jeruk, dapat membantu mengurangi risiko depresi hingga 20 persen.
Foto: Pixabay
Buah jeruk. Para dokter dan ilmuwan mengungkap bahwa mengonsumsi lebih banyak buah tertentu, seperti jeruk, dapat membantu mengurangi risiko depresi hingga 20 persen.

AMEERALIFE.COM, JAKARTA -- Penelitian terbaru menemukan bahwa pola makan berperan dalam menurunkan risiko depresi. Para dokter dan ilmuwan mengungkap bahwa mengonsumsi lebih banyak buah tertentu, seperti jeruk, dapat membantu mengurangi risiko depresi hingga 20 persen.

Buah ini dinilai tidak hanya kaya akan nutrisi, tetapi juga mendukung kesehatan usus, yang berperan dalam produksi hormon kebahagiaan. Jeruk mencapai puncak musimnya selama musim dingin, bertepatan dengan periode ketika banyak orang mengalami depresi musiman atau merasa jenuh di rumah.

Baca Juga

Menariknya, penelitian terbaru menunjukkan bahwa musim ini bisa lebih bermanfaat dari yang kita kira. Para dokter dan ilmuwan mengungkapkan bahwa mengonsumsi satu buah jeruk setiap hari dapat mengurangi risiko depresi hingga 20 persen, berkat manfaat positif yang diberikan pada hubungan antara otak dan usus.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Microbiome ini dipimpin oleh Raaj Mehta, MD, MPH, seorang instruktur kedokteran di Harvard Medical School sekaligus dokter di Rumah Sakit Umum Massachusetts. Dalam wawancaranya dengan The Harvard Gazette, Mehta mengungkapkan bahwa ia terinspirasi untuk melakukan penelitian ini setelah membaca studi tahun 2016. Studi tersebut menemukan kemungkinan hubungan antara tingginya asupan flavonoid—senyawa alami yang memberi warna pada buah dan sayuran, terutama yang terdapat dalam jeruk—dengan risiko depresi yang lebih rendah pada wanita lanjut usia.

Penelitian terbaru ini memperluas cakupan data dengan melibatkan lebih dari 100 ribu wanita yang tergabung dalam Nurses' Health Study II (NHS2). Program penelitian yang dimulai pada 1989 ini mengumpulkan laporan dari para perawat mengenai gaya hidup, pola makan, penggunaan obat, serta kondisi kesehatan mereka setiap dua tahun.

Mehta dan timnya menemukan bahwa perawat yang mengonsumsi sekitar satu jeruk berukuran sedang per hari memiliki risiko 20 persen lebih rendah untuk mengalami depresi. Ia mencatat bahwa ia dan para peneliti tidak mengamati tren serupa dalam mengonsumsi buah atau sayuran lainnya.

Bagaimana jeruk dapat melindungi dari depresi?

Mehta meyakini bahwa efek perlindungan jeruk, lemon, dan buah sejenisnya terhadap depresi berkaitan dengan kemampuannya dalam merangsang pertumbuhan bakteri usus Faecalibacterium prausnitzii (F prausnitzii). Bakteri ini berperan dalam produksi serotonin dan dopamin, dua neurotransmitter yang berfungsi mengatur suasana hati dan sering disebut sebagai "hormon bahagia".

Melalui analisis sampel tinja, penelitian tersebut menemukan bahwa wanita yang mengonsumsi lebih banyak buah jeruk memiliki jumlah F prausnitzii yang lebih tinggi di usus mereka. Hasil serupa juga ditemukan pada pria dalam kelompok sampel yang lebih besar. Selain itu, peserta dengan depresi cenderung memiliki kadar F prausnitzii yang lebih rendah.

“Ada begitu banyak bukti yang menunjukkan hubungan erat antara usus dan otak, jadi saya tidak terkejut menemukan lebih banyak bukti baru,” ujar Mehta kepada The Harvard Gazette.

“Namun, sebelum mendapatkan hasil ini, saya tidak pernah menghubungkan jeruk dengan kesehatan otak. Kita sering mendengar bahwa ikan disebut sebagai ‘makanan otak’, tetapi jarang ada yang menyebut jeruk sebagai makanan otak," kata dia lagi.

Mehta menjelaskan bahwa sulit membandingkan efektivitas buah jeruk dengan antidepresan tradisional, seperti selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI). Hal ini karena penelitian ini berfokus pada pencegahan depresi, sedangkan obat-obatan tersebut biasanya digunakan untuk mengobati depresi setelah seseorang mengalaminya.

“Di masa depan, konsumsi jeruk mungkin bisa menjadi bagian dari strategi pengelolaan depresi yang dikombinasikan dengan obat-obatan tradisional. Namun, masih diperlukan lebih banyak penelitian sebelum kita dapat menarik kesimpulan tersebut," kata dia.

Mehta juga berharap penelitiannya akan menciptakan lebih banyak dialog seputar diet dan kesehatan mental. Selain berkontribusi pada kesehatan mental, berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa buah jeruk memiliki banyak manfaat bagi kesehatan fisik. Sebagai contoh, kandungan flavonoid dalam jeruk diketahui dapat membantu merelaksasikan pembuluh darah, yang berpotensi menurunkan tekanan darah. Selain itu, satu buah jeruk berukuran sedang mengandung sekitar 69 mg vitamin C, yang berperan penting dalam memperkuat sistem kekebalan tubuh.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement